Ketika ibu tidak merestui apa yang aku cintai, semua hal terasa menjadi berat. Dulu, saat masih di bangku SMA, ada satu yang aku cintai. Dan ketika hendak memasuki bangku perguruan tinggi, aku masih berkomitmen untuk terus mencintainya hingga aku lulus kuliah. Aku tidak tahu mengapa aku mencintainya, awalnya aku hanya ikut-ikutan, mengikuti teman-temanku saja, namun kemudian, aku semakin merasa nyaman dan merasa berguna ketika ada di sana. Karena rasa cinta itu, aku sering pulang sore. Bahkan, saat kelas 2 SMA, saat rasa cinta ini mencapai puncaknya, aku hampir selalu pulang setelah maghrib. Aku tidak khawatir dengan kondisi akademikku, aku tahu bahwa di kelas 1 SMA aku mendapat peringkat 3 dan 2. Dan di kelas 2, peringkatku tidak pernah masuk 32 besar, padahal di kelas tersebut siswa-siswinya ada tidak sampai 40. Aku tidak khawatir.
Di akhir masa SMA, entah bagaimana kakak ketigaku mengetahui tentang satu yang aku cintai, padahal aku di rumah jarang menceritakan kehidupanku di SMA. Lalu dia memintaku untuk berhenti mencintainya. Aku tidak mau. Dia tetap mencoba, namun aku tetap teguh pada pemikiranku. Dan menjelang hari keberangakatanku ke Surabaya untuk menimba ilmu di perguruan tinggi, tiba-tiba ibuku juga meminta untuk menghentikan rasa cinta ini. Ibuku memintaku untuk fokus kuliah dan melupakan satu yang aku cintai. Aku kaget, aku tidak tahu bagaimana bisa beliau memutuskan hal tersebut, atas dasar apakah. Aku hanya mengiyakan, tidak berani menolak secara langsung.
Bersambung insyallah....
0 komentar:
Posting Komentar