Dini hari tadi, Onboard (papan ketik virtual dari OS Ubuntu) membantuku menulis tulisan ini. Tanpa papan ketik yang sesungguhnya dan hanya bermodal tetikus (mouse), kecepatan mengetikku turun menjadi dua karakter per detik. Maklum, hanya satu jari tangan yang bekerja di "klik kiri" tetikus. Beda pastinya, jika sepuluh jari yang di"turun tangan"kan di papan ketik.
Jadi, marilah bersyukur atas apa saja, tak peduli berapa banyak tombol yang ada di papan ketikmu, tak peduli betapa berat atau ringan saat kau menekan tombol di papan ketik, tak peduli berapa jari yang bisa kau gunakan untuk menekan tombol-tombol di papan ketik, tak peduli apakah papan ketikmu
wireless,
wired, atau yang bersatu dengan layar monitor (baca : laptop). Tak peduli itu, marilah bersyukur atas apa saja.
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Aku mencoba membayangkan, ada seorang programmer handal
jepit yang hendak mengetik ratusan, bahkan ribuan baris koding program dengan menggunakan papan ketik virtual. Awal mengetik dia berkata, "Aku
rapopo", tak lama berselang dia melanjutkan, "tapi
suwe-suwe 'aku tak sanggup lagi'", lalu dia menundukkan kepala dengan disangga kedua tangannya. "Aaaarrrggh!!!", dia berteriak dalam hati sambil memejamkan matanya . Saat dia membuka mata, tiba-tiba, semua menjadi gelap. Keesokan harinya, di depan komputer yang digunakannya kemarin, ditemukan tergeletak tak bernyawa sebuah papan ketik yang sesungguhnya, yang bisa disentuh dan dilempar. Akhirnya, dia melanjutkan kesibukannya sebagai seorang programmer handal
jepit. (-_-")
0 komentar:
Posting Komentar